ULIL

by on

“…Upaya menegakkan syariat Islam, bagi saya, adalah wujud ketidakberdayaan umat Islam dalam menghadapi masalah yang mengimpit mereka dan menyelesaikannya dengan cara rasional. Umat Islam menganggap, semua masalah akan selesai dengan sendirinya manakala syariat Islam, dalam penafsirannya yang kolot dan dogmatis, diterapkan di muka Bumi.

Oleh karena itu, Islam sebetulnya lebih tepat disebut sebagai sebuah “proses” yang tak pernah selesai, ketimbang sebuah “lembaga agama” yang sudah mati, baku, beku, jumud, dan mengungkung kebebasan. Ayat Innaddina ‘indal Lahil Islam (QS 3:19), lebih tepat diterjemahkan sebagai, “Sesungguhnya jalan religiusitas yang benar adalah proses-yang-tak-pernah-selesai menuju ketundukan (kepada Yang Maha Benar)…”

Membaca kembali polemik yang muncul sebagai akibat terbitnya tulisan Ulil Abshar Abdalla yang berjudul “Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam” pada Harian Kompas (18/11/2002) terasa begitu mencerahkan. Tulisan itu begitu menohok, kontroversial, hingga KH Mustofa Bisri, merasa perlu menanggapinya sekaligus menyebut identitasnya dalam tulisan balasan: Mertua Ulil Abshar Abdalla. Hehehehe…

Memang demikianlah Islam menurut hemat saya. Selalu terbuka ruang untuk didebatkan, dibincangkan. Kran “ijtihad” atau menafsir tak boleh ditutup, sebab hanya dengan cara itulah Islam akan terus bertumbuh, paling tidak, pada diri penganutnya.

(Palu, 5 Februari 2017)

You may also like