TUA

by on

Akh, tua memang adalah pengadil yang paling menakutkan.

Malam ini, kala mencicip novel “I Am Sarahza” karya Hanum Salsabiela Rais (anak tokoh reformasi, Amien Rais) dan suaminya, Rangga Almahendra, tetiba saja saya tersentak. “Tenyata saya sudah tua juga”, batinku. Rasa kaget ini dipicu selepas melihat tahun kelahiran Hanum yang sama dengan saya.

Lantas apa yang telah saya perbuat? Karya apa yang sudah saya hasilkan? Apa yang hendak saya tuju dalam hidup hidup ini? Dan, mau saya habiskan untuk apa sisa hidupku ini? Pertanyaan-pertanyaan ini kemudian berpendar dalam benakku. Membentuk lubang kegelisahan dan disorientasi. Dalam. Dalam sekali.

Malam ini, di kamar tidurku, tidak ada yang paling saya gelisahkan selain mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu.

Dulu, di usia-usia mahasiswa; kala aktif di HMI, saban waktu habis untuk empat aktivitas ini : baca-diskusi-tulis dan demo. Tak ada aktivitas selain itu. Jangan tanya soal kerja (yang menghasilkan uang). Rasa-rasanya saat itu, semua teman-teman adalah pengangguran. Teman-teman sering bilang, “pengangguran yang intelektual”. Biar sedikit bermartabat. Walaupun dalam palung hati yang paling dalam, teman-teman sadar, itu tidak lebih dari upaya menghibur diri. Sebab fakta yang sebenarnya adalah: bukan intelektual, menganggur pula.

Ritual itu saya tekuni secara total. Hampir tak ada waktu yang tersisa, kecuali melewatinya dengan aktivitas itu. Untuk urusan membaca misalnya, seorang senior pernah memberi tips. “Segerakanlah tidur, kemudian bangun tengah malam. Selepas tahajud, membacalah. Itulah waktu yang paling tepat untuk membaca”, katanya. Senior itu malah beberapa kali mempraktekkan cara yang tidak lazim. Entah ilmunya dari mana. Dia ambil sebaskom air, kemudian kakinya dicelup di situ. Saya tanya itu jitu? Dia jawab, “tidak, saya tetap mengantuk dan tidak paham isi buku”. Hahaha…

***
Masa lalu tetaplah masa lalu. Mustahil bisa ditarik ke masa depan. Masa kini. Pemaknaan atas hidup yang “sederhana”, memungkinkan kita bisa menjalaninya dengan happy. Dengan kata lain, definisi atas hidup yang berorientasi atau menitik-tekankan pada aktivitas tersebut, memberi isyarat bahwa itulah hidup yang layak untuk dijalani.

Kini, ketika tanya sebagaimana di atas menyeruak, apa hendak dijawab? Entahlah. Saya juga belum memikirkannya. Yang pasti kompleksitas kehidupan, menuntut kita untuk sigap, juga adaptif, dalam menyikapinya. Tentu saja, peran yang diambil tak mesti harus sama dengan di masa lalu.

Bila pilihan hari ini adalah menjadi “pekerja-serabutan” itu adalah niscaya. Tak ada hidup yang mudah, laiknya sinetron. Tak ada pula hidup yang tak dijalani. Lari berarti kalah. Mati.

Masa depan harus disiapkan. Dirancang. Tak ada bangunan masa depan yang baik, tanpa didahului oleh perencanaan yang baik. Itu hukum besi kehidupan.

Malam ini, di kamar tidurku, saya hanya mau memberi jawaban atas sejumlah tanya itu dengan membaca. Inilah pilihan yang paling realistis di tengah aktivitas yang saya jalani ini. Saya meyakini bahwa membaca adalah pintu pengetahuan. Sementara pengetahuan adalah pondasi dasar kehidupan. Tak ada kehidupan yang memanusiakan (humanis) tanpa pengetahuan.

Kelak, bila saya tak juga bisa mengambil peran sejarah yang lebih besar, paling minimal saya sudah berikhtiar untuk berpengetahuan. Bila tak bisa berjuang (secara praksis), paling minimal, saya mengerti “apa itu” berjuang.

Dengan cara ini, saya hendak menjawab “teror” malam ini.

(Buol, 10 September 2018)

You may also like