SAHABAT

by on

…Maridjan mengajak Soekarno ke kota, membeli sepeda lagi. Kali ini, mereka ambil dua Fongers sekaligus: satu untuk Soekarno satu untuk Maridjan…(hal 125)

…di pintu toilet, Musso menepuk pundak Hans. “Hai tonggos! Kau belum tahu, ya…Soekarno itu adikku”…(hal 91)

Menuntaskan novel sejarah “Seteru 1 Guru,” membayangkan bagaimana pergolakan batin seorang Soekarno tatkala: mendengar berita tertembaknya Musso dan menandatangani berkas eksekusi mati Maridjan Kartosoewirjo. Dua sosok yang tidak saja ia kenal, tetapi banyak memberi warna bagi hidupnya, suka maupun duka.

Soekarno, Musso, Kartosoerwirjo–tentu selain itu ada Semaun, Alimin, dan lain-lain–bagaimanapun adalah tiga orang sahabat, yang sewaktu bersekolah tinggal bersama di rumah H.O.S Tjokroaminoto di Jalan Peneleh, Surabaya. Belajar dan ditempa lama dalam rahim yang sama menjadikan ketiganya mewarisi karakter yang sama dari sang guru: keras, gigih dan teguh pendirian.

Kelak, kalaupun ketiganya memilih jalan yang berbeda; Musso menjadi pimpinan PKI dan Kartosoewirjo menjadi imam tertinggi gerakan DII/TII (yang sama-sama memberontak terhadap NKRI justru pada saat sahabat terdekat mereka, Soekarno, menjadi Presiden) itu tidak lain adalah perwujudan dari semangat dan cita-cita mereka untuk merealisasikan mimpi tentang Indonesia yang sejahtera, makmur, adil tanpa penindasan.

Batin saya, seusai membaca novel ini, menjadi mengerti apa itu arti persahabatan, perjuangan, dan pengorbanan yang hakiki bagi seorang Soekarno, Musso dan Kartosoewirjo.

Akhirnya, terlepas dari tajamnya perbedaan corak pikir dan ideologi mereka, bagi saya ketiganya tetap adalah guru yang layak menjadi teladan bagi anak-anak bangsa.

Ya, mereka adalah Pahlawan bagi bangsa ini.

(Palu, 1 April 2016)

You may also like