REVOLUSI

by on

Membaca dinamika pasca Revolusi Iran Tahun 1979 dari perspektif kelompok yang tidak sejalan dengan pemikiran dan ideologi rezim baru yang berkuasa, menyuguhkan sisi-sisi “luka” yang memprihatinkan. Bagaimanapun revolusi menuntut tumbal. Tak ada revolusi tanpa “korban”. Bahkan, boleh jadi, ia melumat anak-anaknya sendiri.

Di Iran, pasca revolusi yang diarsiteki Ayatullah Khomeini, perdebatan soal ideologi-negara yang tepat untuk pemerintahan Iran yang baru, menjadi begitu amat ramai. Bahkan tidak jarang menimbulkan gesekan yang tajam di antara kelompok atau faksi yang pro-revolusi.

Marina Nemat, seorang gadis Iran yang beragama Kristen mendokumentasikan bagaimana derita yang dialaminya selama mendekam dalam tahanan. Marina dituduh merupakan anggota jaringan organisasi kiri (atau bercorak pemikiran kiri) yang menolak model pemerintahan Islam gagasan Ayatullah Khomeini. Suatu gejala yang memang banyak ditemukan pada anak-anak muda Iran saat itu.

(Palu, 12 Mei 2018)

You may also like