RAZIA

by on

Semingguan terakhir ini, ketika berita penangkapan terhadap orang-orang yang menggunakan simbol PKI menjadi viral di media massa, saya merasakan takut yang setakut-takutnya.

Saya tak membayangkan kalau razia atau sweeping buku dilakukan oleh aparat sampai ke rumah-rumah warga. Tak sedikit tentu yang mengoleksi buku-buku kiri. Tidak terkecuali saya. Di lemari bukuku, seingat saya, terdapat lebih dari seratusan koleksi buku kiri, lengkap dengan gambar palu arit. Ada pula buku-buku tentang Syiah, mazhab yang paling dibenci oleh mayoritas ummat Islam Indonesia. Jumlahnya yang paling banyak, sekitar 400-an judul. Lebih dari itu, terdapat juga buku-buku yang menganjurkan tentang jihad, termasuk yang bersumber dari kelompok radikal-fundamentalis Islam. Kelompok yang selalu diasosiasikan sebagai teroris. Di samping aneka buku lain, yang judulnya berserakan dari A-Z.

Maka, bila razia ini benar-benar sampai memasuki tempat yang paling privat dari diri kita, rumah, apa jadinya saya. Dan kita semua. Tentu bukanlah penangkapan yang kita takutkan. Tetapi lebih dari itu, tanda-tanda akan hilangnya kemerdekaan berpikir dari kehidupan bernegara-bangsa kita. Itu yang lebih kita takutkan. Apalah artinya kehidupan bernegara-bangsa tanpa ada kebebasan di dalamnya?

Ya Allah, lindungilah kami dari penyelenggara negara yang picik…

(Palu, 13 Mei 2016)

You may also like