PLURALITAS

by on

Kemanusiaan jauh lebih utama daripada agama.

Tadi, saat lagi berkeliling menyusuri Kota Palu, mengalirlah perbincangan dengan Miftah. “Nenek (maksudnya neneknya) pernah menegur saya, gara-gara di mobil mainan Tsanny (adiknya) ada gambar mirip salib. Saya bilang ke nenek memangnya kenapa. Ini juga cuman gambar ambulance, bukan salib. Bukan apa-apa“, demikian tutur Miftah.

Dalam banyak kesempatan kita acap menemukan cara pandang seperti ini. Tidak saja pada orang tua, saudara, kawan, atau orang-orang di sekitar kita, melainkan pada mayoritas ummat Islam. Sebagian besar dari kita menganggap bahwa penganut agama di luar kita, selain Islam, pastilah salah. Hanya Islamlah satu-satunya jalan kebenaran. Selain itu tak ada. Oleh karena itu, kita tak boleh bertoleransi dengan mereka.

Kehadiran agama-agama selain Islam adalah realitas sejarah yang tidak bisa dinafikkan begitu saja. Bahkan dalam Islam ada pengakuan terhadap agama Samawi, yakni agama-agama (terdahulu dan Islam) yang ajarannya bersumber dari Tuhan. Terhadap agama-agama tersebut, Tuhan mengingatkan bahwa: asal mereka bertauhid (beriman kepada Tuhan) maka mereka juga layak beroleh surga.

Murtadha Muthahhari, salah seorang ulama-filosof terkemuka di Iran, memperkenalkan apa yang ia sebut sebagai muslim fitri. Muslim fitri adalah konsep pengakuan dan penyematan keselamatan kepada orang-orang yang tidak beragama Islam tetapi memiliki kontribusi besar bagi peradaban dan kemanusiaan. Bagi Muthahhari, mereka (muslim fitri) adalah orang-orang suci, sebagaimana para alim dalam Islam, yang berhak untuk diganjar dengan surga. Bunda Theresa dan Thomas Alfa Edison adalah dua orang yang disebut oleh Muthahhari.

Di lingkungan tempat tinggal saya, realitas perbedaan agama ini sangat nampak. Sejak tahun 2004, saya hidup di lingkungan dimana tetangga-tetangga dekat saya banyak yang beragama Kristen, Katolik maupun Hindu. Setiap lebaran tiba, mereka satu per satu datang menyambung silaturrahim dan merayakan lebaran dengan kami. Tak tampak ada perasaan ganjil sedikit pun dari mereka. Semua dilakukan tulus, laiknya keluarga yang telah hidup berdampingan selama bertahun-tahun. Hal yang kemudian kami balas saat Natal tiba. Saya, istri dan anak-anak mendatangi satu per satu tetangga yang beragama Kristen, untuk sekadar menyampaikan ucapan selama Natal dan bersilaturrahim.

Mungkin, dari persentuhan selama bertahun-tahun inilah kemudian memberi pengaruh dalam membentuk sikap plural Miftah. Tak pernah ada perasaan ganjil dan “berjarak” dari dia untuk bersahabat/bermain dengan anak-anak tetangga sebayanya yang berbeda agama. Apalagi sampai menganggap bahwa teman-temannya itu kafir.

Untuk menjaga ini, kepada Miftah, di setiap kesempatan saya selalu berpesan, “agama diturunkan oleh Tuhan ke muka bumi untuk mengabdi pada kemanusiaan, bukan justru untuk menyebar kebencian kepada sesama manusia.”

(Palu, 4 Juli 2017)

You may also like