PKI

by on

Memenjarakan orang, dan apalagi membunuhnya, hanya karena sebuah keyakinan adalah kejahatan maha besar.

Seusai buka puasa–setelah mengandaskan berpiring-piring ‘kue tetu’ dan nasi–saya menuntaskan novel “Blues Merbabu” karya Om Gitanyali. Novel yang beberapa hari lalu saya beli, tetapi baru bisa dituntaskan bacaannya akibat kesibukan, dan tentu saja: karena demam dan flu yang menyergapku hebat.

Membaca novel ini, merasakan bagaimana perjuangan seorang anak “melawan nasib.” Terlahir sebagai anak PKI, Gitanyali harus melewatinya dengan pelbagai penderitaan. Kehilangan ayah, ibu, dan keluarga terdekat hanya karena dituduh terlibat PKI adalah pil pahit yang harus diterimanya. Gitanyali berhasil. Cara terbaik yang dipilihnya adalah menjauh dari urusan politik dan menikmati hidup sebagaimana anak kebanyakan.

Stigma PKI memang selalu ampuh. Bagi kekuasaan, dengan stempel ini, orang bisa ditangkapi dan dikucilkan dari lingkungan sosialnya. “Atheis” menjadi alat pembenarnya. “Setiap komunis, pasti atheis.” Demikian kata mereka. Hal yang sama, yang saya rasakan pula. Sebagai cucu dari seseorang yang pernah dituduh gerombolan PKI, saya pernah dikata-katai guru sekolah, “Dasar cucu PKI“. Memang sakit Om Gita! Apalagi bagi anak SD yang kala itu, jangankan mengerti apa itu PKI, mendengarnya saja terasa asing.

Tetapi satu hal yang selalu luput, terutama dari para penguasa yang kini banyak menyeru penolakan terhadap PKI dan segala embel-embelnya adalah bahwa, pemikiran itu bersifat dinamis. Sebagai cucu PKI saya tak lantas terkagum-kagum dengan Marxisme, Stalinisme ataupun Leninisme, dan lain-lain. Saya malah masuk dan berkecimpung di HMI. Organisasi yang dalam catatan sejarah banyak berlawanan dengan PKI.

Sampai di sini, tuturan Om Gitanyali terasa mengena. “Om komunis mall atau kapitalis?”
“Tak ada bedanya. Di bawah kapitalisme, orang mengeksploitasi orang. Komunisme, tinggal dibalik saja……”

(Palu, 06 Juni 2016)

You may also like