MIFTAH

by on

Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu.
Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri.
-Khalil Gibran-

Sore itu, saya dilabrak seorang teman. Tepatnya bapak. Saya lebih suka memanggilnya bapak ketimbang teman, karena usianya yang memang terlampau begitu jauh dari saya.

Kamu ini tega sekali. Kemarin itu saya lewat jalan Setia Budi. Siang. Saya lihat anakmu jalan kaki pulang sekolah. Itu anak kayaknya kecapekan. Mana matahari panas lagi. Saya lihat keringatnya bercucuran, bajunya basah semua. Ketika saya tawari menumpang di mobilku terus kemudian saya antar pulang, dia cuman jawab, “tidak usah om. Saya jalan kaki saja”. Kasihan itu anak”.

Saya orang yang percaya bahwa cara terbaik mendidik anak adalah: memandirikannya. Bukan memanjakannya. Itulah yang saya terapkan pada Miftah–lengkapnya Miftah Ali Muthahhari, anak tertua saya. Sebagai seorang anak yang sedang bertumbuh, ia memang memiliki hak untuk menikmati hari-harinya dengan bahagia. Dan sebagai orang tua, kita tentu mesti menyediakan ruang untuk itu. Bila perlu kita memfasilitasinya, entah dengan cara bagaimana.

Tetapi, saya tidak tahu kenapa niat ini selalu kandas. Saya meyakini segala sesuatu yang berlebihan pasti tidak baik. Memanjakan anak, apalagi memberi mereka kemudahan melalui fasilitas-fasilitas mewah tidak saja tak mendidik mereka, tetapi bahkan mengerdilkan mereka. Memberi mereka fasilitas agar mudah, berarti tak memberi jalan bagi mereka untuk bertumbuh menjadi sosok yang kuat, gigih, mandiri, dan tahan banting. Memberi mereka fasilitas secara berlebihan, berarti “membunuh” masa depan mereka.

Maka jadilah Miftah biasa-biasa saja. Hidup dengan cara sederhana, dan membangun mimpi dari hal-hal yang sederhana pula. Di rumah pernah ada anak tinggal. Dialah yang saban hari membantu istri saya, mengurusi pekerjaan di rumah. Tapi lazimnya anak-anak tinggal selalu tak betah. Beberapa bulan saja tinggal terus pergi. Itu terjadi berulang-ulang hingga kemudian kami putuskan untuk tidak mencari anak tinggal lagi. Akibatnya, tentu saja istri saya kerepotan. Menjalani dua profesi sekaligus (sebagai guru dan ibu rumah tangga) tentu tidak mudah. Beberapa kali saya desak untuk mencari anak tinggal kembali, tapi ia bersikukuh, tak mau.

Suatu malam di tengah rasa penat yang amat sangat akibat banyaknya kerjaan di rumah, tiba-tiba Miftah ngomong ke ibunya. “Ummi, saya liat ummi capek sekali. Gimana kalau saya saja yang gantikan Ummi mencuci piring, menyapu/mengepel lantai dan mencuci pakaian.” Istriku diam saja. Ia mungkin tak yakin dengan niat Miftah. Apalagi saya. Bagiku mustahil dia mau repot-repot turun tangan membantu ibunya.

Untuk beberapa hari setelah itu kehidupan di rumah tak banyak berubah. Sampai suatu pagi, ketika saya terbangun kira-kira jam 8.00 Wita saya menemukan rumah sudah bersih, piring tercuci semua dan ditambah di meja sudah tersaji tahu goreng. Saya tanya ke istri, siapa yang kerjakan semua ini. Istri saya menjawab datar, “Miftah, tadi waktu kita masih tidur dia kerjakan semua. Sekarang dia sudah ke sekolah.”

Sekarang, dalam hari-hari tiadanya saya (karena bekerja di luar kota)–dan bahkan ketika ada saya sekalipun– di rumah, pekerjaan itu menjadi rutinitas Miftah. Ia menjadi tulang punggung. Mencuci, menyapu, menjemur pakaian, dan sesekali berbelanja kebutuhan dapur terus dilakoninya sehari-hari. Tak sedikit saya berfikir, bagaimana caranya anak ini menjadi sedemikian sabar begini. Ia tumbuh menjadi lebih dewasa dari umurnya. Sering, ketika saya menelepon untuk sekadar menanyakan kabar dan atau menyampaikan apa-apa yang harus mereka lakukan di rumah, Miftah selalu menjawab, “Tenang saja Aba. Ada saya di sini. Kepala rumah tangga. Hehehe….”

Nak, malam ini, dari jauh entah kenapa saya rindu sekali padamu.

(Palu, 20 Februari 2016)

You may also like