MATERIALISME, TUHAN, DAN KEBENARAN ILMIAH

by on

Di titik tempat alam raya berputar, tak ada tubuh atau jiwa.

Tidak ada lagi “dari” atau “menuju ke”. Di titik itulah segalanya menari. Tidak ada lagi gerak atau diam.

 Jangan katakan ini mustahil !

Ketika masa silam dan masa datang digabung, tak ada lagi gerak “dari” atau “menuju ke”.

Tak ada lagi kemajuan atau kemunduran. Ini adalah titik segala-galanya.

Segala-galanya.

Tak ada tarian, yang ada hanya Sebuah Tarian.

(T.S. Elliot)

Ikhtiar manusia dalam mencari realitas dasar kosmos (secara ontologi) pada galibnya telah berusia purba, hampir seusia dengan manusia itu sendiri. Di masa lampau, tradisi intelektual para nabi—baik Ibrahimic maupun non-Ibrahimic—senantiasa dipadati oleh kegairahan dan perenungan yang teramat mendalam lagi tiada berakhir terhadap semesta-realitas. Tengoklah bagaimana perjalanan intelektual Nabi Ibrahim a.s dalam mencari realitas dasar kosmos, mulai dari penisbahannya terhadap matahari, bulan, siang dan malam hingga akhirnya bertemu dengan eksistensi (wujud) yang Mahamutlak. Atau Nabi Musa a.s. yang mengawali perjumpaannya dengan yang Mahamutlak di tengah kepingsanannya di Bukit Tsuur. Atau sebagaimana The Buddha yang mendekap sang Mahamutlak dalam “senandung” fenomena hidup dan mati, muda dan tua, kaya dan miskin. Atau Nabi non-Ibrahimic lainnya, Socrates yang menemui sang Mahamutlak di kerumunan kaum muda di pasar-pasar di Athena. Dan atau ketika ia menukarkan selembar nyawanya dengan anggur kematian di bursa pengadilan Athena.

Di era modern, disiplin ilmu yang berkenaan dengan pencarian terhadap hakikat realitas semesta di sebut sebagai kosmologi. Atau secara lebih lengkap definisi kosmologi adalah serangkaian keyakinan dan pandangan universal yang tersistematis mengenai manusia dan alam semesta, atau secara umum mengenai ‘ke-ada-an (wujud).1 Kosmologi dapat dibedakan menjadi dua, yakni : pertama, kosmologi teisme—sebuah ajaran kosmologi yang memasukkan wujud immaterial atau supranatural dalam diskursus tentang hakikat alam semesta. Dan kedua, kosmologi materialisme—sebuah ajaran kosmologi yang menegasi atau mengingkari unsur-unsur yang bersifat immaterial atau supranatural dalam diskursus tentang hakikat alam semesta.

Materialisme: Perkenalan Singkat

Materialisme sebagai sebuah pandangan-dunia yang berkenaan dengan hakikat (ontologi) alam semesta dapat dikatakan berhadap-hadapan secara vis a vis dengan agama. Tetapi, berkenaan dengan diskursus tentang ada atau tidaknya kebenaran obyektif di luar diri kita (secara eksternal), dapat dilawankan pula secara vis a vis dengan idealisme. Jika materialisme masih mengakui bahwa ada realitas obyektif secara eksternal, maka idealisme menolak sama sekali segenap realitas eksternal. Idealisme—sebagaimana ungkap Murtadha Muthahhari—memandang bahwa realitas eksternal hanyalah merupakan konstruksi yang diada-adakan oleh pikiran manusia atau bersifat aksiden.2 Ciri pemikiran idealistik dapat ditemukan pada kaum sophistik, baik klasik maupun mutakhir semacam postmodernisme.

Materialisme dalam definisinya yang kedua, dapat diterapkan pada seluruh penganut paham ketuhanan, baik muslim maupun non-muslim. Sebab, berbeda dengan kaum sophistik, kaum agamawan memandang bahwa materi sebagai realitas obyektif secara eksternal adalah maujud. Materi—bagi kaum agamawan—adalah sebuah realitas yang hidup dalam ruang dan waktu yang memiliki ketundukan pada perubahan, transformasi, evolusi kemudian juga dapat dipersepsi dan diindrai. Materi dipandang sebagai sebuah realitas obyektif yang mandiri dari akal pikiran manusia serta memiliki substansi.3

Sementara, materialisme dalam definisinya yang pertama, dapat dibedakan menjadi dua, pertama, materialisme mekanik. Materialisme mekanik dapat kita temukan pada kosmologi Newtonian. Simaklah baik-baik bagaimana dengan secara gegabah Newton mendefinisikan alam semesta. Menurutnya, alam semesta ini tak lebih dari sebentuk “mesin mekanik raksasa” yang tersusun atas komponen-komponen material yang bergerak dan saling terhubungkan secara deterministik. Sederhananya, alam semesta dapat kita bayangkan seperti sebuah jam mekanik raksasa dengan sejumlah besar gigi yang saling berhubungan secara mekanik. Jam ini disetel pada pukul 00.00 melalui Big Bang. Sejak saat itu, nasib seluruh komponen jam telah ditentukan (determined) secara pasti.4 Kosmologi mekanik inilah yang membidani lahirnya deisme, utamanya dikalangan para ilmuan. Deisme mengasumsikan bahwa pada galibnya alam semesta diciptakan oleh sang Mahapencipta. Tetapi setelah semuanya selesai tercipta, maka sejak itu pula fungsi dan peran Tuhan atas alam semesta berakhir, untuk selanjutnya berevolusi dengan tunduk kepada hukum-hukum alam semesta itu sendiri. Tuhan tak lagi memiliki peran dan otoritas apa-apa untuk mengatur dan menata alam semesta.

Kedua, materialisme dialektik. Materialisme dialektik untuk pertama kali dikonseptualisasi secara sistematis oleh Karl Marx. Dengan mengambil teori dialektika ideal Hegel, Karl Marx mengembangkan gagasan materialisme dialektiknya. Hanya saja, berbeda dengan Hegel yang memandang bahwa dialektika terjadi di alam ide-ide, Marx mengintrodusir bahwa dialektika terjadi di alam material. Sebab, menurut Marx hanya realitas materilah yang obyektif, selain itu tidak. Hingga kini, konsep materialisme dialektik menjadi dasar filosofis ajaran Marxisme dan termasuk varian-varian terkininya.

Kritik Islam: Menyelamatkan Fitrah

Islam sebagai ideologi universal, juga memiliki perspektif kosmologi yang lain. Bahkan rangkaian akidah dan ushul dalam ajaran Islam dapat disebut sebagai kosmologi Islam itu sendiri.5 Sembari mengkritik habis-habisan kosmologi materialisme, Islam menghadirkan perpektif kosmologi yang genuine dan memanusiakan.

Beberapa kritik—ini kritik saya yang dhaif—terhadap kosmologi materialisme dapat kami kemukakan berikut : pertama, materialisme menisbahkan bahwa realitas yang obyektif hanyalah yang bersifat material. Sementara Islam memandang bahwa sesungguhnya terdapat realitas obyektif selain yang bersifat material, yakni realitas non-material. Bahkan, realitas non-material inilah yang Mutlak dan menjadi sebab bagi adanya realitas material. Realitas non-material (wajib al-wujud) tidak dapat diindrai, dipersepsi, dan disekat oleh dimensi ruang dan waktu. Ia biasa disebut sebagai Wujud Sederhana yang Meliputi Segalanya. Nah, kelemahan materialisme adalah ketika mendefinisikan bahwa hanya realitas material-lah yang obyektif. Sementara, realitas material diketahui hanya dengan mengandalkan kemampuan indrawi manusia, yang sama kita mahfum, terbatas dalam menjangkau substansi sesuatu serta realitas yang bersifat non-material tadi. Sehingga, karena keterbatasan dan kemaujudannya yang tergantung kepada wajib al-wujud, ia disebut sebagai mumkin al-wujud atau wujud al-wajib karena yang lain.

Kedua, sebagai implikasi dari pengingkaran terhadap eksistensi non-material—termasuk yang ada dalam diri manusia—kaum materialis memandang bahwa perubahan yang terjadi pada diri manusia hanya berlaku secara jasadiah (artifisial, fisikal) an sich. Disinilah kita menemukan bukti keterpengaruhan yang teramat kuat Marx terhadap ajaran evolusionisme Darwin. Sementara, Islam memandang bahwa perubahan juga terjadi pada ranah substansi. Pandangan ini diintrodusir oleh Shadr Al-Din as Syirazi atau lebih dikenal dengan Mulla Sadra, dengan teori utamanya al-Haraqah al-Jauhariyyah (Gerak Trans Substansial). Secara sederhana, jika kaum Marxian berpandangan bahwa yang ada hanyalah realitas aktus, maka Islam melihat bahwa ada pula realitas potensial, di samping realitas aktus. Nah, sesuatu yang bersifat non-material adalah realitas potensial dari sesuatu yang bersifat material.

Ketiga, asal-muasal sesuatu dan perubahan yang dimaksudkan oleh kaum Marxian bertumpu kepada asas dialektika. Sementara Islam, memandang bahwa asal-muasal sesuatu dan perubahan berlandaskan kepada hukum kausalitas. Perubahan pada sebuah benda—misalnya—dipandang oleh  kaum Marxian karena terjadinya kontradiksi internal pada benda yang dimaksud. Kontradiksi internal inilah yang kemudian disebut sebagai causa material. Sementara, Islam meyakini bahwa perubahan pada sebuah benda tidak diakibatkan oleh terjadinya kontradiksi internal, melainkan karena gerak material sebagai causa materialnya setelah mendapatkan intervensi secara eksternal. Sebab eksternal inilah kemudian dinamakan sebagai causa efisien.

Keempat, karena kaum Marxian hanya mengakui realitas material sebagai yang obyektif, maka konsekuensi logisnya, hanya  pengetahuan empiris-lah yang dipandang absah. Sementara, dalam pandangan dunia Islam kita mengenal beragam macam pengetahuan manusia, seperti: pengetahuan rasional (filsafat dan ilmu matematika), pengetahuan ta’abbudi (berdasarkan otoritas) dan pengetahuan intuitif (syuhudi).

Demikian posisi pandangan-dunia materialisme terhadap Tuhan. Atas nama kebenaran ilmiah, Tuhan dibunuh. Padahal, kebenaran ilmiah hanyalah setetes dari Samudra Ilmu Tuhan yang terpancar dari ke-Mahasempurnaan dan Cinta-Nya yang tiada berperi.

Sesungguhnya kalian tidak akan menemukan sedikitpun kekurangan pada ilmu Allah. 

Ilmu Allah tiada sedikit, melainkan banyak. Ilmu kita, ibarat setetes tinta di Samudera yang Mahaluas lagi Mahadalam.

Dan subhanallah. Maha Suci Allah dari setumpuk persangkaan manusia.

Catatan Kaki:

­­1 Anonim, copy internet.

2 Muthahhari, Murtadha, Kritik Islam terhadap Materialisme, al-Huda, 2000, hal. 17.

3 Ibid, hal. 17.

4 Seri Penerbitan Sains, Teknologi dan Masyarakat Cet. I, Mizan, 2000, Hal. 6.

5 Anonim, copy internet, dengan menambahkan spesifikasi penjelasannya kepada ajaran Islam.

(Palu, 23 Februari 2005)

You may also like