DILAN, MILEA, DAN CINTA ANAK SMA

by on

“Perpisahan adalah upacara menyambut hari-hari penuh rindu” (Pidi Baiq)

Memang, mengobati rasa penasaran itu mahal. Setelah berupaya mencari dan kemudian menemukannya di salah satu toko buku, hari ini saya menuntaskan trilogi novel “Dilan” karya Pidi Baiq. Beberapa waktu yang lalu, kisah Dilan populer melalui film yang (juga) berjudul Dilan. Bahkan percakapan antara Dilan dan Milea, “Lia, jangan rindu, berat. Kau takkan kuat, biar aku saja”, menjadi sangat familiar di telinga, dan terlebih lagi, banyak dikutip orang-orang di status FB atau percakapan WAG.

Secara umum, sebagaimana novel percintaan lainnya, novel Dilan menghadirkan banyak sisi yang menarik: romantisme, kelucuan, rasa bahagia, dan di sisi lain: kesedihan, pengorbanan, sakit dan perpisahan. Hanya saja, bagi saya, novel ini menjadi lebih dibanding novel lainnya karena: satu, alur ceritanya sederhana. Novel 1 dan 2 memuat penuturan Milea terkait dengan perjalanan cintanya dengan Dilan, sementara novel ketiga memuat klarifikasi Dilan terhadap beberapa peristiwa yang tidak terjelaskan atau perlu penjelasan pada novel 1 dan 2.

Dua, menggunakan gaya tutur yang populer dan gaul. Tidak seperti kebanyakan novel lain yang biasa menggunakan gaya tutur yang “berat” dan “metaforis”, maka novel ini hadir dengan gaya tutur yang mudah dipahami kebanyakan orang.

Dan tiga, berakhir dengan sad ending. Jika novel mainstream ceritanya biasa berakhir dengan happy ending, maka kisah Dilan dan Milea berakhir sedih. Berpisah. Milea kemudian menemukan pengganti Dilan ketika kuliah (dan kemudian menikah dengannya), sementara Dilan mendapat pacar baru yang masih bersekolah di SMA.

(Palu, 31 Mei 2018)

You may also like