KESAKSIAN

by on

Sudah tak terhitung berapa kali saya menawarkan ke beliau untuk membuat semacam biografi beliau. Tapi sebanyak saya menawarkan, sebanyak itu pula beliau menolak.

“Janganlah. Belum saatnya. Saya merasa belum berbuat apa-apa untuk daerah kita. Jangan malah jadi riya”, kata beliau. Selalu.

Itulah sosok Bupati Buol, dr. H. Amirudin Rauf, Sp.OG, M.Si, atau yang akrab disapa dr. Rudi.

Siang kemarin, dalam diskusi, sesaat setelah kedatangan beliau selepas melaksanakan ibadah Haji, hal yang sama mengemuka. Tetapi lagi-lagi beliau menampik. “Mending kita fokus membangun irigasi warga”, ucap beliau.

Padahal sebagai Bupati menjadi ‘media darling’ bukanlah hal yang sulit untuk dilakukan. Lagipula beliau tidaklah miskin prestasi. Ada segudang prestasi dan gagasan yang menarik untuk diwartakan. Tetapi sekali lagi, sebagaimana biasanya, beliau memilih jalan sunyi.

Suatu ketika beliau menyampaikan : “Pemimpin itu adalah pangeran kesunyian, sebab pada akhirnya berbagai keputusan penting yang dilahirkan itu berpulang kepada dia. Dia harus memutuskan sendiri. Dan pada dirinyalah semua itu digantungkan. Benar atau salah. Hitam atau putih”.

***
Siang ini, saat menunggu rasa kantuk menyerang, saya memberanikan diri untuk membuat coretan-coretan ini. Bagi saya, ada banyak momentum, ada banyak peristiwa, ada banyak kisah, yang menarik untuk direkam. Bila Pak Dokter–hingga kini saya dan banyak kawan-kawan terbiasa memanggil beliau demikian–tidak setuju membuat biografi sekarang, anggaplah coretan ini sebagai ‘cara saya’ untuk merawat ingatan; mengumpulkan puing-puing peristiwa tersebut agar tak terkubur oleh hiruk-pikuk kesibukan.

Ada banyak orang yang bersentuhan, berinteraksi, berkomunikasi dan mengalami (langsung) peristiwa-peristiwa itu, momentum-momentum itu, sejak Pak Dokter menjabat sebagai Bupati Buol tahun 2012. Peristiwa-peristiwa tersebut menarik, baik itu dalam kaitannya dengan dinamika pemerintahan, politik, sosial kemasyarakatan, maupun keseharian. Bila itu terkumpul, tentu saja bisa menjadi bangunan kisah yang menarik pula dibaca oleh publik.

Sebut saja, misalnya, soal ‘mobil rental’. Sejenak saya tuturkan. Jadi, setelah menjabat sebagai Bupati, Pak Dokter tidak langsung setuju membeli mobil baru untuk beliau. Beliau tetap menggunakan mobil lama yang sebenarnya sudah tidak ‘layak’ digunakan oleh seorang Bupati.

Suatu ketika–saat itu di penghujung tahun 2012–beliau harus balik dari Palu ke Buol, agar bisa mengikuti Sidang Paripurna di DPRD Buol. Sementara mobil dinas yang ada harus diperbaiki. Masuk bengkel. Diinisiatiflah untuk menggunakan mobil rental saja. Muammar Koloi yang bertugas mencarikan mobil.

Di hari keberangkatan, datanglah mobil rental tersebut menjemput Pak Dokter. Seperti biasa, Pak Dokter tampil apa adanya. Berpakaian biasa. Tak ada kesan sebagai seorang Bupati. Muammar, entah lupa atau bagaimana, juga tidak menyampaikan ke sopir rental bahwa yang diangkutnya itu adalah Bupati.

Baru berjalan 10 menit sopir sudah ugal-ugalan. Ciri khas sopir yang dikejar setoran. Pak Dokter coba menegur, supaya sopir bisa lebih pelan-pelan menyetir. Tetapi beberapa kali ditegur, sopir itu tak juga memelankan kendaraannya. “Menderita saya. Sepanjang jalan tidak bisa tidur saya dia bikin. Pokoknya pusing dan mabuk”, kata Pak Dokter ketika menceritakan peristiwa ini. Malah ketika di daerah Pantai Barat, Pak Dokter menegur kembali sopir itu, hanya dia jawab, “saya buru-buru ini. Mau PP, karena mau tahun baru di Palu”.

‘Penderitaan’ itu baru berakhir setelah mobil singgah di salah satu rumah makan di Pantai Barat. Kebetulan, suami istri, pemilik rumah makan itu, salah satunya adalah suku Buol. Jadi ia mengenali Bupatinya. Ketika lagi santai-santai, pemilik rumah makan itu iseng bertanya ke sopir, “mau kau antar kemana itu Pak Bupati?” Sontak sopir kaget. Tak percaya. “Waduh, celaka, ternyata Bupati yang saya bawa ini”, dalam hatinya.

Selepas itu, sudah bisa diduga. Mobil meluncur pelan dan ‘halus’. Pak Dokter bisa tidur pulas. Tak ada lagi ‘zig-zag’, hingga finis di Rumah Jabatan Bupati di Buol.

Ketika Pak Dokter menceritakan kejadian ini ke saya dan teman-teman, saya sempat berkomentar. “Kenapa tidak mengaku saja bahwa saya Bupati, Dok?” Kata saya. Tetapi komentar saya ini dengan sigap dijawab oleh Ibu Bupati, “mau mengaku juga pasti sopir tidak percaya. Bagaimana sopir yakin dia Bupati, kerak bajunya saja robek-robek”. Hahaha….

***
Demikianlah satu di antara banyak peristiwa yang melingkupi perjalanan dan keseharian Pak Dokter sejak menjabat sebagai Bupati Buol. Catatan atas peristiwa-peristiwa tersebut, menurut saya, penting untuk didokumentasikan–dalam bentuk apapun itu. Tidak saja karena itu bisa menjadi referensi kepemimpinan bagi generasi selanjutnya. Tetapi, memang, sungguh sangat disayangkan bila peristiwa-peristiwa itu terkubur dengan sendirinya. Ada banyak mutiara, ada banyak ibrah, yang bisa ditarik dari peristiwa-peristiwa itu.

Terakhir, semoga coretan pendek ini bisa menjadi pemantik-awal untuk lahirnya coretan-coretan berikutnya. Atau ‘mengundang’ minat dari sesiapa saja yang pernah (dan sedang) bersentuhan langsung dengan Pak Dokter untuk berbagi kisah. Terutama, saya kira, dalam konteks mendudukkan masa depan Buol dengan gaya dan karakter kepemimpinan seperti Pak Dokter. Wallahu a’lam bis shawab.

(Buol, 16 September 2018)

You may also like