KEPEMIMPINAN (2)

by on

Dalam kepemimpinan gagasan berlaku “hukum” meritokrasi. Kinerja seseorang diukur berdasarkan merit (prestasi), bukan yang lain. Itulah satu-satunya ukuran yang dipakai. Tidak berlaku hukum : like and dislike. Kawan atau lawan.

Pemerintahan pun tidak dikelola dengan pendekatan politik (political approach). Pendekatan ini hampir tidak dikenal dalam wajah kepemimpinan gagasan. Yang ada adalah program. Ukuran sukses seorang pemimpin, bukan pada banyaknya tepuk tangan warga saat ia berpidato, tetapi pada sejauhmana program yang ia canangkan bermanfaat bagi banyak orang. Mensejahterakan mereka.

Dalam kepemimpinan gagasan yang hendak dibangun adalah model kerja berbasis sistem. Bukan personal. Artinya pengelolaan kerja pemerintahan disandarkan pada sistem yang baku. Tidak ada dominasi personal. Apalagi tindak menabrak sistem, hanya karena kekuatan interventif person tertentu. Semua pihak melebur; tunduk pada sistem yang ada.

Bila ini yang dilakukan, wajah pemerintahan (negara/daerah) tentu menjadi baik. Ada bibit-bibit kebajikan (good and clean governance) yang tumbuh darinya. Sebaliknya, bila tidak yang muncul adalah malapetaka. Itu pasti.

Jadi? terserah mau memilih yang mana. Semua berpulang ke kita. [Gambar: www.kompasiana.com]

(Buol, 26 Juli 2018)

You may also like