KECEWA

by on

Saya pernah bertemu dengan salah seorang pengusaha. Ia bercerita kalau punya pengalaman mengurus bisnis di Kalimantan. Kala itu, karena begitu mempercayai teamwork dan partner kerjanya ia kehilangan uang sekitar 3 M. Saya lantas bertanya, “Bapak tidak kapok? Uang segitu banyak itu pak.” Ia menjawab santai, “kalau saya kapok, bagaimana saya bisa mengembalikan uang yang hilang itu. Tidak ada jalan lain kecuali bangkit dan berusaha lagi.”

Dalam beberapa kesempatan saya mengalami hal yang sama. Pernah membangun join usaha dengan seorang kawan, hasilnya tidak saja gagal. Bahkan, uang yang dikeluarkan untuk patungan modal pun ikut ludes. Pernah pula saya menaruh kepercayaan plus uang untuk modal sesuatu usaha kepada seseorang, tapi hasilnya juga sama. Kecewa.

Ketika masalah ini saya utarakan kepada bapak tersebut. Ia tampak tak kaget. “Itu sudah biasa. Tak perlu patah semangat,” katanya sembari menasehatiku. Dikhianati, dikecewakan itu biasa. Yang luar biasa adalah ketika kita berhasil keluar dari penjara kekecewaan (mental block) untuk kemudian, dengan gagah, bangkit kembali. Tak ada sukses yang instan. Semua pasti diperoleh dengan pengorbanan, kekecewaan, tetesan keringat dan bahkan kadang air mata.

Memang tentu saja tak mudah. Adalah manusiawi bila seseorang dikecewakan, dikhianati, lantas kemudian marah. Adalah manusiawi pula bila seseorang mengalami kegagalan, lantas kemudian jatuh terpuruk. Pun demikian, tak boleh kita secara gegabah kemudian mengatakan bahwa orang-orang seperti itu keropos, bermental kerupuk. Sebab itu lumrah. Manusia manapun pasti mengalami hal yang sama bila diperhadapkan pada situasi demikian.

Bapak itu kemudian menutup nasehatnya dengan kalimat yang pelan kepada saya, “bukanlah pengusaha bila ia tak memiliki nyawa lebih dari satu.”

Malam ini, ketika gelombang kekecewaan datang menderu-deru menghantam saya. Saya tiba-tiba teringat nasehat bapak itu.

“Terima kasih atas nasehatnya pak. Semoga bisa menjadi amunisi bagi saya untuk terus berusaha. Salam sukses.” [Gambar: wattpad]

(Buol, 19 Februari 2016)

You may also like