HUKUM BISNIS

by on

Tiada hal yang paling menyakitkan selain menjadi orang tak berpunya. Tidak saja karena begitu kita menjadi tak berdaya, terbatas, dan inferior. Tetapi tak jarang realitas sosial turut “menghukum” kita dengan sikap, perkataan maupun tindakan yang merendahkan.

Pagi kemarin, sekitar jam 06.30 wita. Dengan mengendarai sepeda motor plus baju seadanya saya meluncur ke pantai Talise. Niatnya mau membeli ikan buat keperluan di rumah. Saya memang orang yang super cuek dengan urusan penampilan. Pun demikian dengan kendaraan. Sehingga walaupun, alhamdulillah, di rumah ada mobil, saya acapkali bila ada keperluan yang remeh-temeh atau buru-buru lebih memilih naik motor ketimbang mobil. Sebagaimana kemarin pagi itu. Dengan baju rumah yang rada kumal dan sepeda motor milik ipar saya, meluncurlah saya berburu ikan.

Sekitar 20 menit tibalah saya di pantai. Tampak belum banyak yang jualan ikan. Hanya ada dua meja seingatku. Yang satu ikannya sudah ditata rapi, sementara yang satu baru dikeluarkan satu per satu dari termos. Sisanya, meja-meja yang ada masih kosong. Mendekatlah saya ke meja yang ikannya baru mulai ditata itu. Terlihat ikannya masih segar-segar. Malah ada yang masih hidup. Seorang ibu, dibantu lelaki, tak jelas apakah itu suaminya atau orang lain, sibuk menata ikan-ikan itu. Biar kalau dijual gampang.

Hampir sekitar satu menit saya pandangi ikan-ikan itu, sebelum kemudian bertanya ke ibu dan bapak itu. “Berapa ikannya Bu?”. Tak ada respon sama sekali. Saya diam saja. Pikirku mungkin mereka lagi repot. Sabar. Saya tunggu kira-kira 2 menit lalu bertanya kembali. Tapi lagi-lagi tidak ada respon. Hanya wajah bapak itu yang menatapku sekejap lalu hanyut lagi dalam kesibukannya. Aduh. Emosiku memuncak. Maksudnya apa ini? Apa karena pakaianku begini lagi mengendarai motor, mereka tak yakin saya mau beli ikan itu. Atau mungkin, sederhana pikiran mereka, paling juga cuma tanya-tanya. Mana cukup uangnya untuk beli ikan-ikan kayak ini. Jadi tidak perlu direspon.

Karena tak tahan. Saya tinggalkan ibu dan bapak itu, beserta khayalan bisa mencicipi ikan bakar segar. Saya hanya membatin, kenapa sampai kayak begitu mentalnya. Tidak habis pikir saya. Biasanya penyakit suka memandang rendah orang lain, hanya menghinggapi orang-orang kaya. Tapi pagi itu, saya menyaksikan sendiri, bagaimana penyakit itu bahkan juga bersarang akut di otak seorang penjual ikan–bahkan dalam kadar yang lebih parah.

Jam 09.00 wita. Karena juga tak menemukan lauk yang tepat untuk menemani makan sepanjang hari itu, saya kembali ke pantai. Berniat membeli ikan lagi. Tetapi kali ini saya naik mobil, dengan pakaian agak rapi. Dalam hati, saya sudah bersumpah, tak akan membeli ikan di ibu tadi, sesegar apapun ikannya dan semurah apapun harganya. Itu sumpahku. Mental-mental seperti itu, tak layak untuk dibiarkan, apalagi itu hadir dari kita yang biasa-biasa saja. Kita yang bahkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja harus pontang-panting bekerja.

Setibanya di sana saya memilih mencari ikan di jejeran ibu tadi. Karena memang di situ ikannya masih segar-segar. Seperti biasa, ketika pembeli datang, senyum ceria ibu-ibu penjual ikan segera saja menyambut saya. Tidak terkecuali ibu yang tadi itu. Satu per satu ibu-ibu itu kemudian menawarkan ikan dagangannya. Tapi saya memilih membeli di samping tepat ibu yang “sombong” itu.

Saat saya berdiri agak dekat dengan meja ibu itu, tampak jelas dia kaget. Mungkin dia sadar bahwa sayalah orang yang tadi pagi itu. Ibu itu kelihatan jadi kikuk. Tapi saya cuek saja. Saya tak membuka ruang komunikasi sama sekali. Saya tak memberi kesempatan sama sekali bagi dia, bahkan untuk sekadar menyapa saya. Sampai saya tinggalkan tempat itu, saya masih tetap memperlihatkan wajah sinis.

Di perjalanan pulang, hati saya terasa lega. Saya berpikir, kalaupun saya tidak sampai memarahi ibu itu akibat perilakunya, saya sudah “menghukum” balik dia, bahwa: dalam berdagang, hal yang paling pokok adalah bagaimana melayani konsumen dengan hati. Tanpa itu, konsumen pasti lari. Dan, jika demikian, jangan sekali-kali anda berharap bisa menjadi orang yang sukses menjual. Itulah hukum bisnis. Memang kejam. [Foto: tribunkaltim.co]

(Palu, 04 Maret 2016)

You may also like