HMI

by on

Islam yang saya anut adalah Islam HMI.

Malam itu, pukul 23.00 Wita, di sekretariat, suasana santai tiba-tiba berubah tegang. Malam-malam yang biasanya diisi canda tawa, menjadi sangat mencekam. Andi Ridwan; senior, mantan Ketua Umum HMI-MPO Cabang Palu pertama, datang membawa kabar. “Besok pelantikan gubernur jadi dilaksanakan. Jika kamu mau isu kamu booming, besoklah momennya,” katanya.

Saat itu, memang HMI-MPO secara nasional tengah menggelorakan isu “Revolusi Sistemik”. Perubahan secara fundamental atas tatanan bangsa. Dan, salah satu isu turunannya adalah: turunkan empat elite pimpinan bangsa. Gus Dur sebagai Presiden, Megawati sebagai Wakil Presiden, Amien Rais sebagai Ketua MPR, dan Akbar Tanjung sebagai Ketua DPR. Sebagai gantinya: bentuk Dewan Presidium Nasional—semacam pemerintahan transisi hingga terpilih kepemimpinan nasional yang benar-benar pro-rakyat.

Kami yang (kalau tidak salah) berjumlah 9 orang malam itu, mendengar tuturan Andi Ridwan dengan runut. “Ini momen tepat. Tidak ada momen lain yang bisa mengangkat isu kalian menjadi isu nasional jika momen ini terlewatkan,” tegasnya. Maka, selanjutnya kami pun bersepakat untuk aksi besok. Di bawah temaram lampu sekretariat, strategi dan taktik aksi pun dibicarakan.

“Yang bisa dilakukan hanya dua,” lagi-lagi Andi Ridwan memberi pendapat. “Satu, kamu aksi telanjang, atau kedua, hadang mobil mendagri. Hanya itu pilihan. Pilihan yang pertama tidak mungkin. Masak HMI aksi telanjang. Yang mungkin adalah pilihan kedua. Kamu hadang mobil mendagri di dekat areal pelantikan. Itu saja,” tutup Andi Ridwan.

Saya yang ikut rapat malam itu bergidik. Ini gila. Bagaimana bisa, dengan estimasi massa tidak lebih dari 15 orang—dengan hitungan masih ada beberapa orang yang bisa diajak, mengingat begitu sempitnya waktu—kita mau menghadang mobil mendagri? Benar-benar tak masuk akal. Terbayang bagaimana ramainya acara pelantikan besok. Tidak sedikit aparat yang ada, tidak sedikit massa pendukung Aminudin-Ruly (Gubernur-Wakil Gubernur terpilih saat itu) yang hadir. Belum lagi, undangan, dan masyarakat yang datang; ingin melihat prosesi pelantikan dari dekat. Semua tentu akan tumpah ruah, tak berbilang banyaknya, di lokasi pelantikan.

Jelang pagi, ketika salat subuh hendak digelar, seolah-olah itu menjadi subuh terakhir. Semua hanyut dalam doa masing-masing. Bayangan kematian tampak sangat dekat. Batas antara hidup dan mati hanya sejengkal. Atau paling tidak, masuk rumah sakit. Atau dibui. Aparat, massa pendukung Aminudin-Ruly, dan masyarakat pasti marah jika acara pelantikan terganggu. Mereka pasti tak akan tinggal diam, jika aksi itu tetap kami laksanakan. Saya tak banyak bicara. Hanya lantunan doa, saya panjatkan. Semoga pagi itu akan baik-baik saja.

Selepas salat, kami kemudian berangkulan. Saling memohon maaf. Saling mengikhlaskan. Jika pada aksi nanti, terjadi apa-apa pada kami, berarti sudah itu jalannya. Tak perlu disesali. Ini adalah pilihan. Jalan bagi para pendaku kebenaran. Semua kami kemudian saling menguatkan. Hati masing-masing. Dan bersama.

Pukul 09.00 Wita, setelah sebelumnya saya menjemput Abdullah di kontrakannya, kami kemudian berkumpul di depan Kantor DPRD Provinsi—tempat akan dilangsungkannya acara pelantikan. Atribut aksi tak tampak. Semua terselip dalam baju. Itu dilakukan agar kami tak gampang diidentifikasi. Menuju lokasi aksi pun, kami berpencar. Naik angkot satu-satu. Di lapangan, ketika berdiri berdekatan juga seolah-olah tak saling kenal.

Pukul 10.00 Wita, mobil rombongan mendagri yang ditunggu pun akhirnya datang. Haris, korlap aksi yang ditunjuk, bergegas mengambil posisi. Ia berdiri di tengah jalan. Dengan kode: pekikan “Allahu Akbar”, ia mengomando kami. Satu per satu kami berlari ke jalan. Membentuk blokade. Tangan berpegangan, atribut aksi dikeluarkan dari dalam baju.

“Turunkan Gus Dur, Megawati, Amien Rais, dan Akbar Tanjung,” teriak Haris. Suaranya menggelegar.

Selanjutnya, tak usah ditanya. Sebagaimana telah dibayangkan sebelumnya, massa pun marah. Suasana menjadi sangat mengerikan. Aparat bereaksi, mengambil tindakan. Blokade dipisahkan. Pentungan melayang. Tinju aparat, dan massa, mendarat di dada. Di wajah. Di belakang. Di semua bagian tubuh. Barisan kocar-kacir. Ada massa yang teriak, “awas saya tikam kamu”. Satu per satu kami lari. Menyelamatkan diri.

Saya yang kesakitan; sangat, memilih lari ke Jalan Haji Hayun. Naas, di dekat lampu merah, saya tertangkap. Maka digiringlah saya ke Mapolda. Jaraknya dari lampu merah sekitar 100 meter. Baju saya sudah lepas. Darah mengucur deras, dari hidung dan bibir. Dada terasa sesak. Susah bernafas. Sepanjang jalan hingga Mapolda, pukulan itu masih menghantam. Silih berganti. Saya tak tahu, kekuatan apa yang menjelma dalam diri saya, hingga masih dapat bertahan hidup dengan serangan itu.

Kuasa Tuhan atas hamba-Nya.

Malam, pukul 21.00 Wita, setelah selesai diinterogasi kami—yang tertangkap—dibebaskan. Beberapa orang senior mengambil inisiatif untuk “mengurus” kami. Yang saya ingat adalah: Bang Dirman (Sudirman Zuhdi), Kak Nasir Daimaroto, Bang Fachri Timur, dan Kak Andi Ridwan sendiri. Atas upaya mereka kami dibebaskan.

Setelah aksi mengerikan itu, lama saya tak mau ikut aksi. Saya trauma. Benar-benar trauma.

Jalan Revolusioner

Tak tahu, entah apa yang membuat saya kemudian tersesat dalam rimba aktivisme. Setamat dari SMA di Buol, saya kuliah di Universitas Tadulako, di Palu. Di Fakultas Pertanian. Juga, kemudian di Fakultas Teknik. Saya tidak pindah Fakultas, tapi memilih ikut ujian seleksi lagi. Waktu itu namanya UMPTN.

Tahun 2000, saya berkenalan dengan HMI. Saya ikut Basic Training (LK-I). Di LK-I inilah saya berkenalan dengan gagasan-gagasan yang tak biasa. Tak lazim. Pemahaman keislaman yang saya dapatkan sejak kecil hingga SMA, berbanding terbalik dengan apa yang saya terima di HMI.

Bila di masa kecil saya memahami bahwa Islam itu adalah syahadat, salat, puasa, zakat, dan haji, maka di HMI saya menemukan bahwa Islam tak sebatas itu. Islam tak hanya sebatas ibadah ritual. Ada dimensi Islam yang lain, yang setara—atau bahkan lebih—dengan ibadah ritual, yakni: ibadah sosial, yang wajib ditunaikan anak-anak HMI.

Ibadah (intelektual dan sosial) yang dimaksud adalah: keutamaan berilmu pengetahuan dan keharusan menegakkan keadilan dan kemanusiaan. Dua hal yang kemudian menyeret saya lebih jauh lagi dalam percaturan pemikiran Islam dan pergerakan.

Di lapangan pemikiran, saya bertemu dengan gagasan-gagasan keislaman yang “genit”. Wajahnya banyak. Ada yang berspektrum revolusioner, ada pula yang berspektrum modernisasi. Ada yang mengusung dekonstruksi, ada pula yang mengajukan kritik atas tradisi. Ada yang bermazhab Syiah, ada pula yang Sunah keras. Semua itu membentuk “model berpikir” tersendiri bagi saya, dan anak-anak HMI lainnya.

Memang mula-mula saya sangat terpukau dengan Ali Syariati. Tokoh yang pemikirannya pertama kali saya jumpai di HMI. Saya begitu mengaguminya. Islam, dalam olahan Ali Syariati, menjadi begitu hidup. Islam menjadi begitu progresif. Islam menjadi jalan yang sangat revolusioner.

Setelah itu, saya menemukan ada banyak pemikir Islam yang gagasan-gagasannya begitu cemerlang. Saya mengkaji filsafat, logika, epistemologi, sains, budaya, dan lain sebagainya. Saya pun berkenalan dengan pemikir-pemikir Barat, juga Kiri. Mulai dari klasik hingga kontemporer. Saya pun kemudian mengetahui: bahwa buku bacaan itu, bukan hanya “Siksa Alam Kubur” tapi banyak. Beragam judul, beragam topik.

Tapi yang menarik, bacaan-bacaan itu tak lantas membuat anak-anak HMI menjadi liberal. Liberal dalam pengertian bebas dan tak patuh pada doktrin-doktrin dan ibadah dasar Islam. Adagium bahwa: “pemikiran boleh liberal, tapi ibadah jalan terus,” berlaku kuat di HMI.

Di lapangan pergerakan, saya menemukan tafsir bahwa: bahkan aksi (demonstrasi) juga adalah jihad. Jihad dalam pengertian bersungguh-sungguh menegakkan kebenaran memang bisa mengambil banyak ekspresi. Bisa aksi. Bisa menulis. Bisa menjadi penceramah. Bisa menjadi dosen. Bisa menjadi anggota DPRD. Bisa menjadi pemimpin, daerah dan bangsa. Yang pasti jihad bukan dengan mengangkat senjata. Sebab, jihad beda dengan qital.

Maka, atas dasar itulah, hari-hari saya; hari-hari anak HMI habis untuk: baca-diskusi-tulis-aksi. Sebuah rangkaian aktivitas yang berulang dari hari ke hari. Jika hari ini diskusi, berarti besok aksi. Jika hari ini ada bahan bacaan, besok tersebarlah tulisan di media-media cetak.

Demikianlah siklus hidup di HMI, yang saya tahu. Dari dulu. Dan, saya yakin, sekarang pun masih begitu.

***

Hari ini, 5 Februari 2019, adalah Milad HMI. Didirikan oleh (alm.) Lafran Pane pada 5 Februari 1947 di Yogyakarta, pada 5 Februari 2019 ini, HMI kini tepat berusia 72 tahun. Tentu telah banyak lika-liku, dinamika, yang dijalani organisasi mahasiswa tertua di Indonesia ini.
Telah banyak tokoh-tokoh yang dilahirkan oleh organisasi ini. Ada politisi. Ada pengusaha. Ada dosen. Ada guru. Ada karyawan profesional. Ada jurnalis. Ada birokrat. Ada pelawak. Ada artis. Ada pula tukang becak. Ada yang sukses, ada pula yang melarat.

Pun, telah banyak pemikiran yang lahir dari rahim HMI. Ada yang kental ajaran Syiah. Ada yang kental Sunah. Ada yang berbau Kiri. Ada pula yang terpengaruh Barat.

Yang pasti, HMI menjadi rumah bagi semua itu. Bagi lahirnya semua tokoh itu. Bagi lahirnya pemikiran-pemikiran itu. HMI menjadi rumah besar yang menampung semua itu. Semua perbedaan itu. Semua kekayaan itu.

Dan secara pribadi, bagi saya, HMI adalah rumah yang memungkinkan saya bisa memahami Islam secara kaffah. Islam secara total. Islam, yang bukan apa adanya: Islam HMI.

(Buol, 5 Februari 2019)

You may also like