GUS DUR

by on

Pukul 3.40 Wita. Pada kebiasaan yang kini langka saya lakukan: bangun tengah malam, tergelitik untuk mengeja buku (alm.) Gus Dur “Tuhan Tidak Perlu Di Bela“. Buku yang pertama kali terbit pada tahun 1999 ini (kalau tidak salah) adalah kumpulan dari tulisan-tulisan beliau di Majalah Tempo. Tulisan-tulisan ini membentang jauh, mulai dari tahun 1975 hingga 1984.

Dalam banyak kasus, ketika Gus Dur diasosiasikan sebagai pemikir yang liberal, saya justru tidak menemukan itu. Dalam buku ini, sebagaimana buku-buku Gus Dur yang lain, saya justru menemukan kejernihan berfikir seorang pemikir Islam par exellence yang lahir dan besar dari pesantren.

Bila kritik Gus Dur terhadap cara pandang dan perilaku keagamaan selama ini keras, itu sejatinya beliau lakukan dalam konteks hendak menduduk-letakkan Islam secara proporsional, benar, dan relevan dengan perkembangan zaman. Dengan kata lain, ikhtiar Gus Dur tidak lain adalah dalam kerangka bagaimana Islam bisa (selalu) menjadi rahmatan lil alamin.

Di tangan Gus Dur, boleh jadi kita menemukan kritisisme yang begitu tajam, dalam dan menohok itu terhadap (pandangan) (ke)Islam(an). Namun dengan cara inilah sebenarnya justru lahir wajah Islam yang ramah, segar dan cerdas. Bukan wajah Islam yang pemarah.

(Palu, 28 November 2017)

You may also like