EKSTRIMISME

by on

Inilah titik yang paling menakutkan: ketika ekstrimisme menyerbu ruang-ruang simbolik. Bendera, logo, kaus, topi, dan lain sebagainya.

Insiden pembakaran bendera oleh sekelompok Banser di Garut, Jawa Barat—entah itu benar mengandung tulisan kalimat Tauhid atau sebatas simbol organisasi HTI—menunjukkan bahwa ketakutan terhadap yang lain (the other) kini telah memasuki wilayah yang paling dangkal. Wilayah artifisal. Wilayah simbolik.

Kejadian ini, dalam titik sasar yang berbeda, mengingatkan kita pada kejadian sweeping dan pembakaran terhadap logo Palu Arit beberapa tahun yang lalu. Simbol yang diasosiasikan ke partai terlarang, PKI. Insiden ini terjadi di banyak daerah. Hasilnya, bendera, kaus, topi, dan beberapa orang, yang sengaja atau tidak, menggunakan simbol tersebut menjadi sasaran amuk para pelaku sweeping tersebut.

Saya secara pribadi, dalam banyak hal, merasa berbeda pandangan dengan HTI. Adalah khilafah, gagasan utama sekaligus cita-cita yang hendak mereka wujudkan yang menjadi pangkal perbedaan pandangan. Apalagi dengan PKI (dengan segala bentuk “reinkarnasinya”, jika ada). Jelas-jelas, saya berbeda pandangan. Untuk yang ini malah lebih ekstrim lagi. Tak ada kata untuk sepakat.

Tetapi, mempersoalkan HTI (dan juga PKI) pada wilayah simbolik begini, rasanya menggelikan. Kita tidak saja (tampak) latah dalam menyikapi ragam perbedaan, tetapi juga sekaligus kehilangan kecerdasan. Akal kita lumpuh. Kita mengalami defisit kewarasan sebagai sebuah negara-bangsa, yang diikrarkan tegak di atas pondasi NKRI.

Perbedaan itu, setajam apapun, mutlak direspon secara intelektual. Ketidaksetujuan terhadap HTI harusnya di-counter dengan nalar, argumentasi, atau gagasan. Bukan dengan cara membakar bendera. Apalagi bila merujuk ke video yang beredar tampak diiringi dengan nyanyian atau yel-yel tertentu—sebuah fragmen yang mengingatkan kita pada bagaimana para Gerwani menari-menari kala merayakan kemenangan pasca penculikan tujuh jenderal di tahun 1965.

Cara-cara demikian tidak saja rendah dan memalukan, tetapi juga menjadi potret bahwa, bahkan kita yang hidup di era modern sekarang ini pun, acap masih bersikap amat primitif.

(Palu, 30 Oktober 2018)

You may also like