BUKU

by on

Malam ini, karena tak berminat menonton bola–kecuali mungkin dini hari nanti laga antara Brazil vs Swiss–saya menyempatkan waktu membungkus cover buku dengan plastik transparan yang saya beli sehari jelang lebaran. Rasa-rasanya, aktivitas ini telah lama saya tidak lakukan.

Terhitung, sejak pertama kali memulai mengoleksi buku pada tahun 2000 (selepas mengikuti Basic Training di HMI) baru sebagian buku yang sempat saya bungkus. Buku-buku itu, yang dulu saya beli dengan susah payah; kadang harus mengorbankan uang SPP, kadang mengorbankan jatah makan sebulan, atau kadang mengandalkan honorarium yang diterima ketika mengikuti atau memberi materi di pelatihan, kini, alhamdulillah, telah mencapai lebih dari seribuan judul.

Mengoleksi buku, sebagaimana lazimnya penyakit para kolektor, menjadi candu tersendiri. Ada hasrat yang senantiasa mendorong kita untuk berperilaku konsumtif. Syukur, menurut saya, ini positif (walau jujur, kadang tidak bagi istri saya, sebab tidak jarang saya abai membeli baju untuk anak-anak, sementara di waktu yang sama biasa pulang ke rumah sambil menenteng beberapa judul buku…hehehe).

Memang namanya candu yah susah dihilangkan. Kebiasaan ini hingga kini susah diredam. Saban ada waktu longgar, berfokuslah saya berburu buku. Caranya, bisa mendatangi toko buku yang ada di Kota Palu atau memesan secara online. Ini saya lakukan (pastinya) kalau ada sedikit lebih uang. Walau kadang kala, dalam kondisi dompet pas-pasan pun saya tetap nekat membeli.

Saya yakin, buku-buku ini banyak manfaatnya. Boleh jadi tidak hanya bagi saya. Sebab, kalau mau realistis, rasanya mustahil bagi saya untuk menamatkan satu judul buku sampai berulang-ulang. Kecuali mungkin buku itu benar-benar menarik dan atau lagi saya butuhkan.

Tetapi bagi anak-anak saya (dan mudah-mudahan bagi teman-teman lain) saya meyakini bahwa buku ini, kelak akan sangat dibutuhkan. Saya sadar, tak ada bekal yang paling baik bagi anak-anak kita di masa yang akan datang selain ilmu (buku).

Bukankah kaum bijak berkata: merawat buku berarti merawat peradaban?

(Palu, 18 Juni 2018)

You may also like