BISNIS

by on

Bila beberapa kali saya telepon tetapi no respons atau WhatsApp saya tidak berbalas, boleh jadi ini karena sebagaimana pesan beberapa pakar bisnis, “jangan sekali-kali berbisnis dengan teman sebab kelak bila engkau kecewa, bisnislah yang pertama kali akan memutuskan tali pertemananmu.”

Kurang lebih setahun lalu saya mencoba peruntungan; mencoba membangun kerjasama untuk suatu usaha dengan seseorang melalui kawan ini. Saya berpikir, namanya bisnis yah harus dicoba. Saya yakin karena kawan ini menggaransi. Mana mungkin saya di’kibuli’, batin saya. Mustahil itu. Rasa-rasanya tak mungkin ada orang yang tega mencelakai kawannya sendiri. Bukan begitu?

Sayang (tepatnya: naasnya) kerjasama ini tidak berjalan mulus. Belum dimulai saja, sudah bubar. Semua buyar. Yang memprihatinkan: uang saya yang saya dapatkan dengan susah payah, dengan cucur keringat, amblas. Ibarat kata pepatah: mengharap untung, buntung yang didapat. Modal kerjasama yang (sebagian) berasal dari saya hingga kini tak kembali. Tragis.

Dari kejadian ini, setidaknya saya melakukan dua kesalahan fatal; pertama, menjalin ikatan kerjasama tidak secara profesional. Berprasangka baik (positif thinking) dengan orang itu baik. Tetapi tidak (sekali-kali) dalam urusan bisnis. Tak boleh ada rumus begitu. Bisnis adalah bisnis. Segala resiko harus dihitung. Pun demikian, akadnya harus jelas. Berprasangka baik, bila pada orang yang tidak tepat, adalah pangkal malapetaka. Sumber kehancuran.

Kedua, saya berbisnis dengan teman. Ini kesalahan yang lebih fatal. Mencampuradukkan antara urusan perkawanan dengan bisnis, tidak saja keliru, tetapi adalah nyata kebodohan. Dalam urusan bisnis dengan teman, susah kita menarik garis demarkasi yang jelas antara ikatan emosional sebagai kawan di satu sisi, dan tuntutan profesional di sisi yang lain. Padahal, sekali lagi, bisnis adalah bisnis. Teman adalah teman. Keduanya tak boleh menyatu, bila kita mau bisnis kita sukses.

Tetapi bukanlah pengalaman kalau tak menjadi “guru”. Dari kejadian ini saya menjadi sadar, bahwa betapa mudahnya bisnis (uang) memutus hubungan perkawanan. Bila ada perkara yang paling cepat dan tajam memutus hubungan perkawanan, maka sudah pasti itu adalah bisnis. Dulu saya marah. Amarah kadang memuncak dan tak terkendali, terutama bila mengingat bagaimana tulusnya saya saat mensupport mereka.

Tetapi sekarang tidak lagi. Saya menjadi lebih kuat. Lebih tahan banting. Amarah itu secara perlahan-lahan berbalik, berganti keprihatinan. Sukar saya membayangkan bagaimana mungkin kita bisa menjalani hidup dan masa depan kita dengan tegak, bila terhadap kawan saja kita abai terhadap hal itu?

[Note] bila hendak berbisnis, sebisa mungkin hindarilah dengan teman, atau jika hendak menjaga hubungan pertemanan supaya awet hindarilah berbisnis dengannya, sebab inilah pembunuh paling sadis dalam suatu ikatan pertemanan. [Gambar: www.merdeka.com]

(Buol, 30 Juli 2018)

You may also like