BASUKI TJAHAJA PURNAMA

by on

Mengobati dahaga tanya dan minimnya informasi soal sosok Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok (Mantan Gubernur DKI Jakarta) yang saya punyai membawa saya, salah satunya, pada buku ini. Bagaimana pun Ahok, pernah menjadi ikon politik yang banyak dipuja, dan sekaligus dicaci. Penuh kontroversi. Ahok menjadi “episode baru” dalam dinamika dan sejarah politik Indonesia: bersih, pro-rakyat tetapi sekaligus ‘kasar’.

Tetapi mungkin beginilah politik jika ingin clean. Ahok, tak khas berbicara retorik dan normatif, sebagaimana banyak kita temukan pada seorang pejabat. Ia selalu blak-blakan, tanpa tedeng aling-aling dan menohok. Pada wajahnya pun, selalu terpancar mimik yang tulus dan jujur, jauh dari kepura-puraan dan kamuflatif.

Pemimpin seperti Ahok, meminjam istilah Jalaludin Rakhmat, bukanlah tipikal pemimpin yang mengidap sindrom homo orbaicus: bahasa publik berbeda dengan bahasa privat.

Sayang memang politik menghempaskan Ahok. Pada pilkada kemarin, ia dikalahkan oleh Anies Baswedan–salah satu senior saya di HMI yang dikenal luas sebagai sosok yang cerdas. Tanpa bermaksud mendikotomikan antar keduanya, bagi saya, Ahok adalah sosok yang berjasa bagi bangsa Indonesia.

Ia telah memberi pelajaran penting bagi dunia politik kita. Di masa kepemimpinannya, Ahok telah menunjukkan bahwa kekuasaan juga bisa berwajah baik. Kekuasaan bisa membantu mengangkat tinggi-tinggi harkat dan derajat bangsa. Atau dengan kata lain, politik di tangan Ahok bisa menjadi alat menegakkan kebajikan bagi semua. Wallahu a’lam bisshawab.

(Palu, 25 Mei 2018)

You may also like