AKTIVIS

by on

Apakah definisi aktivis, kini? Atau sederhananya, siapakah yang berhak menyandang, atau disemati, “nama suci” aktivis?

Dulu, di masa-masa awal reformasi, atau katakanlah jelang runtuhnya rezim orde baru pada tahun 1998, aktivis merujuk kepada sekumpulan–atau individu–progresif dan revolusioner yang menginginkan adanya perubahan (transformasi) di negeri ini. Ciri khas mereka pada zaman ini adalah : muda, kritis, berpikiran maju, terbuka, cerdas, dan berpihak–tentu kepada masyakat kebanyakan (massa).

(Agar tidak terlalu melebar, cuap-cuap reflektif ini sekadar mengkomparasi antara ciri aktivis di masa jelang runtuhnya orde baru dan awal reformasi dengan era teranyar, kini).

Ciri ini, boleh jadi muncul, sebab tantangan kaum aktivis kala itu adalah melawan rezim orde baru yang despotik-totalitarian. Artinya apa, aktivis kala itu diperhadapkan pada situasi sebatas bagaimana bisa melengserkan rezim yang ada. Atau untuk generasi awal pasca reformasi, bisa mengawal rezim yang baru agar tetap bersetia dengan agenda reformasi. Itu saja. Tidak ada niatan yang lain.

Maka, militansi menjadi prasyarat dasar untuk bisa disebut sebagai aktivis. Semakin militan, semakin aktivislah dia. Adapun kecerdasan, sifatnya mengikut. Kecerdasan menjadi “instrumen” penunjang militansi. Tidak (terlalu) pokok. Kecerdasan dibutuhkan agar kaum aktivis memiliki pembacaan yang luas, lagi kritis, terhadap situasi (daerah dan nasional). Semua pengetahuan yang dimiliki diorientasikan untuk menopang kritisisme. Dengan kata lain, berpengetahuan adalah untuk melawan. Adalah “haram” bila pengetahuan seorang aktivis bertolak-belakang dengan idealismenya. Dengan cita-citanya.

Hanya saja, ciri umum dari pengetahuan kaum aktivis kala itu adalah generalis. Kaum aktivis memiliki bacaan yang baik terhadap soal-soal yang bersifat makro, dasar dan “permukaan”. Tetapi tidak menyentuh sampai detail-detailnya.

Di wilayah praksis, alat ujinya adalah demonstrasi dan kedekatan dengan massa-rakyat. Seorang aktivis, dianggap hebat bila sering berdemonstrasi. Pun demikian, seberapa banyak dia berhasil melakukan pengorganisasian dan live in dengan basis massa, menjadi ukuran kesejatian dia sebagai seorang aktivis.

***
Bagaimana dengan sekarang? Hemat saya, tantangan kaum aktivis di era mutakhir ini sudah sangat berbeda. Kaum aktivis, kini, hidup di era dimana negara semakin baik. Pelbagai tuntutan dan agenda reformasi secara perlahan-lahan diakomodir dan dijalankan oleh negara.

Demokrasi, keadilan, dan kesejahteraan; tiga keyword reformasi secara pelan-pelan terimplementasi dalam kehidupan bernegara-bangsa (nation-state). Walau tentu saja belum sempurna seratus persen, tetapi tampak mengalami kemajuan yang cukup signifikan bila dibanding era orde baru.

Lantas bagaimana positioning kaum aktivis? Menghadapi tantangan seperti demikian, menurut saya, kritisisme tidak lagi cukup. Kaum aktivis tak bisa lagi hanya sekadar memiliki kemampuan untuk teriak-teriak, lawan sana-lawan sini, demo sana-demo sini. Untuk (benar-benar) menjadi aktivis, harus ada kemampuan lebih–dalam istilah ekonomi disebut sebagai comparative advantage–yang dimiliki oleh seorang aktivis. Kemampuan itu berupa : penguasaan secara otoritatif terhadap berbagai disiplin ilmu yang dimilikinya plus wawasan interdisipliner, skill, dan kompetensi.

Artinya, seorang aktivis dalam merespons tantangan zaman yang ada, harus benar-benar memiliki penguasaan terhadap masalah, memiliki basis argumentasi yang kuat, dan gambaran penyelesaian terhadap masalah tersebut. Jadi tidak sekadar kritis, tetapi kritis-transformatif–meminjam istilah pemikir-aktivis Kuntowijoyo.

Inilah model aktivis yang disebut oleh Antonio Gramsci sebagai intelektual organik. Atau dalam bahasa Ali Syariati sebagai rausyanfikr. Yaitu suatu model atau prototipe aktivis yang tidak berada di puncak menara gading, tetapi turun memimpin perubahan. Sosok yang tidak hanya sekadar mencaci maki keadaan, tetapi tahu menuntun perubahan. Sosok yang, kata John F Kennedy, tidak sekadar mengutuk kegelapan tetapi berani menyalakan lilin.

Demikian. Menurut saya, hanya dengan memenuhi ciri di atas seorang aktivis masa kini bisa berkontestasi merespons tantangan zaman. Atau dengan kata lain, hanya dengan memiliki ciri di ataslah seorang aktivis sekarang layak disebut sebagai aktivis. Bila tidak, yakinlah ia tidak lebih dari sebatas aktivi(tas)–aktif bawa tas. Wallahu a’lam bis shawab.

Mari merenung (bersama-sama) !!!

(Buol, 24 Agustus 2018)

You may also like