Setiap perjuangan membutuhkan bahan bakar. Bahan bakar ini bisa berupa kata-kata, kalimat, jargon, atau seruan yang itu bisa memantik semangat dan heroisme kaum pejuang.
Kata-kata,
kalimat, jargon, atau seruan itu sering diteriakkan tatkala pemimpin tengah berpidato,
mengonsolidasi kekuatan massa, atau saat perang berkobar.
Nah,
tahukah Anda bahwa tidak semua kata-kata, kalimat, jargon, atau seruan itu
lahir dari suasana heroik—atau di tengah gelora perang. Satu di antaranya yang
populer hingga kini: Bung, Ayo Bung!
Syahdan,
jargon Bung, Ayo Bung! ini lahir ketika pada suatu kesempatan Bung Karno
meminta dibuatkan poster pada pelukis Sudjojono. Poster ini oleh Bung Karno
ditujukan untuk membakar semangat perjuangan para pemuda dalam melawan
penjajah. Pada poster itu digambarkan seorang pemuda yang memutus rantai yang
membelenggu tangannya.
Sudjojono
lantas meminta bantuan Affandi untuk mengerjakan lukisan itu. Dan oleh Affandi
dibuat, hingga menjadi lukisan yang kita saksikan sekarang ini.
Namun
masalah muncul ketika lukisan itu selesai. Baik Sudjojono, Affandi maupun
kawan-kawan mereka yang lain kebingungan untuk menaruh kalimat yang tepat pada
lukisan itu. Tujuannya untuk memberi bobot lebih dan kesan 'garang' pada
lukisan itu.
Hingga
datanglah Chairil Anwar yang memecah kebuntuan itu.
Dalam Winuranto, Cerita Poster "Boeng, Ajo Boeng1" dibeberkan: "Saat meriung berdiskusi, muncul Chairil Anwar. Seketika Sudjojono
berseru:
Ril,
sekarang bagianmu. Dikasih teks apa poster ini?
Mengamati
sejenak, Chairil yang teringat kata-kata hits di Senen, menjawab enteng:
Boeng, ajo boeng."
Sudjojono,
Affandi, dan kawan-kawan lain yang mendengar ucapan Chairil itu lantas tertawa
terbahak-bahak. Bukan tanpa alasan: Kata-kata yang disarankan oleh Chairil itu
berasal dari para 'wanita malam' yang biasa mangkal
di kawasan Senen
untuk memanggil tamu yang lewat.
Boeng, ajo boeng, kata mereka pada tamu yang melintas di hadapan mereka.
Memang, kawasan Senen adalah areal yang sering didatangi Chairil,
baik itu untuk sekadar bercengkerama dengan mereka yang menggantungkan hidupnya
pada jasa lendir itu atau juga, sesekali meniduri mereka.
Bayangkan,
bagaimana sebuah jargon heroik yang itu mewakili sebuah semangat zaman, berpangkal
dari sesuatu yang banal; dari sebuah aktivitas yang terlarang dalam
agama. Sungguh
sebuah insiden yang benar-benar deheroistik.
Kita tentu saja tak pernah mengimpikan hal itu bukan? Bahkan untuk
sekadar masuk dalam perca akal sehat kita sungguh mustahil.
Kita mengimajinasikan sebuah etape perjuangan yang di dalamnya semua
diisi dengan tindakan-tindakan heroik. Sebuah perang melawan kaum penjajah yang
penuh dengan sikap kesatria, gagah, dan terhormat. Atau seruan-seruan yang mengisyaratkan
adanya kekuasaan mahadahsyat yang menjadi sandaran dalam perjuangan—semisal kalimat
takbir (Allahu Akbar).
Tapi begitulah sejarah memberi garis. Tidak semua peristiwa besar lahir dari dentuman besar pula. Atau semua peristiwa heroik pasti dimunculkan dari tindakan yang heroik. Kadang ia hanyalah percik dari peristiwa kecil, lucu, dan tak masuk akal. Atau bahkan acap berangkat dari ironi dan tragedi—seperti jargon yang dicetuskan Chairil itu.
Jargon Chairil
itu kemudian dipakai pada poster yang dibuat oleh Affandi. Dan, dalam
waktu singkat, menyebar ke antero negeri, digunakan sebagai api
pelecut semangat perlawanan terhadap kaum penjajah. Ia menggelombang sebagai
rima penolakan terhadap imperialisme yang menindas.
Dan kini, pada kita yang masih hidup hari ini, apa yang dicetuskan Chairil itu akan terus kita kenang sebagai sebuah kalimat 'sakral' yang pernah menghantarkan Indonesia pada gerbang kemerdekaan.
1 www.merdika.id
(23 Maret 2025)
0 Viewers
0 Comments
Posting Komentar