Di tengah pertengkaran memperebutkan kuasa hari-hari ini, ada yang berbeda dengan apa yang melatari pertengkaran memperebutkan kuasa di masa lampau.

Jika kita membuka peta sejarah Indonesia, ada sejumlah peristiwa yang menandai bahwa: Alih-alih pilkada yang konstitusional, upaya kudeta atau merebut kuasa dari rezim yang ada, itu pernah terjadi. Tragisnya, dalam semua upaya itu pertengkaran tidak saja diwarnai oleh adu mulut atau fisik (berkelahi)—sebagaimana kita saksikan dalam beberapa momen pilkada barusan—tetapi juga (bahkan) pembunuhan. Penuh darah. 

Dari sejumlah peristiwa yang terjadi, saya hanya akan menggoreskan tiga saja. Dengan pertimbangan tiga peristiwa ini memiliki skala dan dampak yang besar. 

Pertama, peristiwa Madiun tahun 1948. Sesaat setelah kembali dari Uni Soviet, mungkin karena terpukau dengan gemilangnya negara komunis itu, Musso dibantu oleh Amir Sjarifuddin mendeklarasikan Republik Soviet Indonesia. Peristiwa ini berakhir dengan terbunuhnya Musso, Amir Sjarifuddin, dan sejumlah pengikut (pasukan) mereka. 

Kedua, 7 Agustus 1949, Kartosoewirjo mendeklarasikan berdirinya Negara Islam Indonesia (NII) di Jawa Barat. Gerakan yang ditiup oleh keinginan untuk menjadikan Islam sebagai ideologi negara ini berkobar bahkan hingga tahun 1962. Skalanya juga luas, melebar hingga ke sejumlah daerah di Indonesia. Ending-nya, Kartosoewirjo—sahabat kecil Soekarno bersama Musso itu—harus dieksekusi mati oleh regu tembak. 

Dan ketiga, peristiwa G30S/PKI tahun 1965. Diawali oleh pembunuhan terhadap tujuh orang jenderal Angkatan Darat, rencana D.N. Aidit untuk menancapkan kuku komunisme di bumi Indonesia harus berakhir dengan tragis. Lebih kurang 2 juta—dalam catatan para pegiat HAM, mereka yang dicap sebagai PKI dibunuh. 

Dari ketiga peristiwa pertengkaran berebut kuasa di atas, semuanya didasari oleh satu simpul semangat yang sama: ideologi. Jadi, tidak semata bagaimana mendudukkan tokoh atau individu tertentu pada kursi kekuasaan, tetapi ada motif yang jauh lebih luhur yang mendasarinya. 

Boleh dikata, apa yang terjadi pada peristiwa-peristiwa itu adalah pertengkaran nilai (value), gagasan, dan ideologi. Bukan pertengkaran politik. 

Berbeda, bukan?

(15 Januari 2025)

0 Viewers