Apa mimpi yang hendak engkau tunaikan di sisa usia yang diberi Tuhan?

Sejak mulai mengoleksi buku 25 tahun yang lalu, saya merasa totalitas saya masih jauh bila dibandingkan dengan Bung Hatta, atau mungkin kolektor buku yang lain, atau juga kawan-kawan lain yang saya kenal secara dekat. 

Hingga hari ini tercatat saya baru mengoleksi 2.000-an judul lebih. Itu saya pastikan setelah saya selesai membuat katalognya. Proses pembuatan katalog saya kerjakan selama lebih kurang 3 bulan. Satu per satu buku saya ambil: Saya catat judulnya, penulisnya, penerbitnya, hingga tahun terbit. Memang capek dan acap jenuh, tapi ada kenikmatan tersendiri yang kita dapatkan dari memelototi buku-buku itu. 

Ada dua keuntungan dari membuat katalog buku yang kita koleksi. 1) Kita menjadi tahu mana-mana saja buku yang sudah kita beli dan mana-mana saja yang bisa kita masukkan dalam list buku yang kita butuhkan atau akan kita belanja—jika rezeki bermurah hati pada kita. 2) Dengan adanya katalog kita menjadi terhindar dari pembelanjaan buku secara berulang. Saya mengalaminya berkali-kali. Beberapa kali saya membeli buku yang ternyata sudah saya punyai. Dahulu (alm.) Saeful Ihsan yang menjadi 'sasaran' saya kalau ada buku yang dobel di rumah. Sekarang, mungkin, ada dua judul yang dobel, tapi belum tahu mau dipindah-alamatkan ke siapa.

Membayangkan keseharian Bung Hatta dikelilingi oleh buku-buku yang konon jumlahnya mencapai 10.000-an judul, membayangkan bagaimana kemewahan menyelimuti jiwa Bung Hatta. Kemewahan ini tentu tak bisa dikonversi dengan apa pun yang berwujud materialitas. Apalagi proses mendapatkannya tidak mudah. 

Bung Hatta harus merelakan sebagian dari biaya kuliah dan hidupnya di Belanda untuk sekadar bisa membeli buku. Juga tatkala di Indonesia, Hatta memacak diri untuk hidup sederhana. Itu tidak lain adalah wujud kesetiaannya kepada buku. 

Memang berat untuk menjejaki Bung Hatta. Sejak lama saya mengimpikan berpunya sebuah ruangan luas yang itu diisi oleh koleksi puluhan—atau bahkan ratusan—ribu judul buku. Katakanlah itu rumah baca. Yang di situ kita, kala dicabik-cabik kehidupan, datang berpasrah diri: Membasuh luka. Atau, bercakap-cakap dengan kawan-kawan—ditemani secangkir teh, hingga lupa waktu. Wow, betapa mewahnya kehidupan demikian.

Beberapa tahun ini saya mulai berpikir—tentu dengan sepersetujuan istri—untuk memanfaatkan satu ruangan di mukim saya yang nyaris berbentuk ruko untuk mewujudkan impian itu. Istri, alhamdulillah, oke-oke saja. Tinggal yang menjadi PR adalah bagaimana menambah deret buku. Tapi itu tentu saja tidak sesederhana laiknya sinetron Indosiar. Bermimpi indah di malam hari dan paginya kejadian: Apa yang kita inginkan terwujud. 

Saban hari saya mengumpul receh. Sebagian dari apa yang saya dapat itu saya alokasikan untuk membeli buku. Kadang memang sudah tidak proporsional. Semisal, pernah saya harus menahan diri untuk membeli selembar baju hanya karena tergiur dengan satu judul buku yang saya temui di aplikasi belanja online

Atau pernah pula di malam Idulfitri saya keluar sendiri. Pulangnya tahu-tahu menenteng satu kantong plastik buku. Tiba di rumah, istri dan anak-anak hanya bisa tertawa: Aneh, orang lain ke mall belanja baju lebaran ini malah tersesat di toko buku. 

Memang tidak gampang. Di tengah minimnya pendapatan—kata Mas Temu Sutrisno: Ahli berpendapat tapi (bukan) pendapatan ahli—mengatur alokasi untuk belanja buku ibarat mendaki di antara dua karang. Di satu sisi, ada kebutuhan sehari-hari yang wajib untuk kita penuhi mulai dari makan, biaya sekolah anak-anak, operasional dan maintenance kendaraan, hingga yang paling berat: Gampang khilaf, tergoda untuk berkuasa. 

(Kali saja bisa semujur Mas Gibran) 

Sementara di sisi lain, mimpi untuk bisa menambah deret buku terus membayangi. Buku bagaimanapun menjadi sebentuk makanan jiwa. Istri dan anak-anak saya tahu persis apa yang saya lakukan jika lagi berada di rumah: Mengintimi laptop selama berjam-jam sembari mengobrak-abrik lemari buku. 

Demikianlah mimpi ini selalu saya tancap dalam hati. Saban hari saya berjuang: Berharap ada rezeki yang bisa menggelontor untuk membeli buku. Saya bisa berhemat dalam banyak hal. Men-delete belanja-belanja yang tidak prioritas bisa saya lakukan demi buku.

Semoga niat ini dilempangkan!

(30 Januari 2025)

0 Viewers